Ada sebuah cerita, dulu saya punya teman “seperjuangan, senasib-sepenanggungan” dan juga ” selapar-sekenyangan” di tempat kost. Kami sama-sama sekolah di tempat yang sama dari SD sampai SLTA, sama-sama dari dusun,  daerah Transmigrasi.  Perbedaan dintara kami adalah; Bapak saya anaknya banyak (Tujuh)  sedangkan Bapak teman saya anaknya cuma dua , sehingga dengan latar belakang  dan pendapatan orang tua kami yang  relatif hampir sama,  tetapi kemampuan memenuhi kebutuhan berbeda karena “user/pengguna” yang jumlahnya berbeda. Perbedaan lain adalah, saya dibiayai orang tua sampai SLTP, sedangkan teman saya dibiayai sampai kuliah.

Anda bisa menduga perbedaan lainya ?….. Saat kuliah teman saya sangat enjoy sedangkan saya tak mampu meluangkan sedikit waktu untuk bermain, sebagaimana layaknya menikmati masa muda. Lho…??? Lha iya, .. lha wong waktu saya  habis untuk mencari makan dan biaya sekolah/kuliah. Karena terpaksa,  maka saya harus belajar dan mencoba untuk bisa apa saja, mulai pembantu tukang batu (kenek),  membantu toko fotocopy,  membantu instalatir listrik, penyiar radio PEMDA, main Band di malam hari walau dibayar murah, bahkan membantu tebas kebun orang lain.  Artinya, karena keadaan , maka saya “terpaksa” harus belajar banyak hal yang dulunya tidak saya kuasai.  Dan ternyata ….. walaupun belajar dengan  “terpaksa”  karena  butuh biaya sekolah, ehh… saya jadi punya ilmu dari berbagai  bidang yang berbeda,  yang belakangan saya rasakan manfaatnya, minimal bisa menghemat biaya saat membangun rumah sendiri, karena biaya bisa ditekan, tidak perlu membayar mahal kepada orang lain untuk pekerjaan-pekerjaan yang “sebenarnya sangat mudah”.

Dan teman saya tadi,… ? Dia punya ketrampilan diantaranya ; main kartu  dan main Domino, tidak pintar nian tapi jadilah untuk -kadangkala –  bebas tidak beli rokok (kalau sedang menang.. lha kalau sedang kalah .. ?? ). Memang saat itu permainan  itulah  yang ditekuninya saat waktu senggang tidak kuliah, sambil menungu kiriman orang tua.

Beberapa waktu lalu saya berkunjung ke rumahnya, disitu dia sedang membayar seseorang  senilai 200.000 rupiah  “hanya” untuk memasangkan 2 buah saklar lampu di dapurnya  dan membuat terminal listrik baru  untuk mesin cuci … wuihh, duit susah nyarinya koq dikasih ke orang lain untuk pekerjaan sepele dan  sangat mudah….

Ternyata …… keadan serba terbatas bisa menghasilkan keterampilan baru apabila dibarengi dengan tekad yang kuat (walaupun karena keadaan terpaksa).  So,…. kalian para siswa yang merasa keadaan ortu kurang mampu, jangan hanya mengeluh dan menunggu,…. Do and Do…. kerjakan dan kerjakan apa yang bisa membuat kalian bertambah kebisaannya. Apalagi bagi kalian yang menempuh pendidikan di Sekolah Swasta, jangan pernah merasa diri kecil dan rendah diri.  Siapa yang tau bahwa keadaan yang “tidak mewah dan kurang wah” ini akan memupuk  jiwa mandiri dan kreatif  yang akan kalian rasakan nantinya.  Semoga …..