Monthly Archives: Januari 2016.

Author : B. Joko Laksono, SP

 

Beberapa hari lalu saya mendengar keluhan dari seorang siswa SMP tetangga saya tentang tugas (PR) yang diberikan oleh seorang Guru terhadap siswa sekelas. berupa tugas “menyalin (menulis tangan) sebuah buku teks, utuh, lengkap” yang berjumlah 56 lembar. Ia benar-benar tersiksa dengan tugas itu karena harus dikumpulkan besok pagi. Tugas itu ternyata belum selesai juga saat ini padahal telah mulai dikerjakannya mulai jam 4 sore hingga jam 8 malam. Ia semakin merasa stress karena kata gurunya, apabila tugas itu tidak selesai maka akan dimasukkan kedalam buku kasus. Demikian informasi yang saya dengar darinya.

Sebagai seorang guru juga di sekolah lain (SMK), tentu saya tetap  menjaga wibawa teman seprofesi walau saya tidak kenal guru SMP anak tetangga itu, dengan mengatakan agar ia tetap mengerjakan tugas itu semampunya. Karena ia sampai menangis saat mengeluh kepada saya, maka saya mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa jika tugas memang terpaksa tidak selesai 100% pun tetap ada nilainya karena salah satu yang dinilai adalah “upaya untuk mengerjakan” tugas itu. Tetapi dia menyatakan keberatannya karena tugas serupa telah diberikan berulangkali oleh guru yang bersangkutan sementara yang dilakukan guru tersebut dikelas adalah ; masuk kelas , mengabsen siswa, memberikan tugas, pergi makan ke kantin guru dan tidak masuk ke kelas lagi.

Saya tidak begitu saja percaya dengan apa yang disampaikan dan mencoba bertanya kepada 2 orang temannya sekelas yang lain dan ternyata jawabannya sama. Sebenarnya yang dilakukan oleh teman Guru itu sah-sah saja apabila dilakukan sesekali dalam rangka mengisi jam kosong, misalnya pada saat ada rapat guru, atau juga tugas itu diberikan oleh guru piket pada saat guru mata pelajaran berhalangan hadir. Tapi kalau tugas itu dilakukan berulangkali oleh Guru yang sama,… ini sudah tidak benar. Nampaknya guru itu sedang bermasalah ; mungkin malas, jenuh, atau memang tidak mampu mengajar. Tapi dia guru sertifikasi … Lho…??!!. Mestinya kita sebagai seorang guru harus mampu mengembangkan pola mengajar yang terstruktur, menyenangkan, dan memperhitungkan waktu serta kemampuan siswa. Yang perlu kita ingat juga bahwa siswa tersebut adalah juga siswa dari guru lainnya yang mungkin juga memberikan tugas dalam bentuk lain, siswa juga adalah anggota keluarga yang memiliki tanggung jawab lain dirumah selain mengerjakan tugas sekolah. Jangan kita buat ia mendapatkan masalah baru berupa keberatan orang tua dan rasa tertekan  karena tugas sekolah yang berlebihan. Kadang kita perlu membayangkan untuk memposisikan siswa kita sebagai anak kita dirumah, bagaimana rasanya.  Lagipula menurut saya jenis tugas seperti itu sedikit sekali manfaatnya, sekedar memaksa siswa membaca dan menulis. Masih leih baik jika siswa ditugaskan membaca lalu yang dikumpulkan adalah ringkasan atau kesimpulannya. Tujuan dan manfaat yang diinginkan sama-sama tercapai tetapi mendapatkan respon yang berbeda dari siswa.

Bisa jadi memang itu salah satu pola yang memang diizinkan di tingkat SMP, saya tidak tau. Tetapi menurut saya tujuan utamanya mestinya adalah agar siswa rajin membaca dan mendapatkan informasi pokok dari buku ajar. Mestinya yang diminta adalah ringkasan (intisari) atau kesimpulan, bukan salinan sebuah buku secara utuh. Lalu untuk apa siswa susah payah membayar biaya buku kalau hanya untuk disalin ulang ?. Semoga ini dapat kita renungkan dan tidak terulang lagi oleh guru lain.