Kisah

Banyolan Konyol ..

0

……………… dari Salam Rimba Indonesia >>

Murid Yang Lebih Pintar Dari Kepala Sekolah….
Kepala Sekolah adalah sosok yang memiliki kemampuan memimpin sebuah sekolah. Dan murid adalah seseorang yang dididik di satu lembaga pendidikan atau sekolah. Jadi dalam garis besar, murid tidak akan lebih pintar dari Kepala Sekolah. Tetapi apa yang terjadi apabila murid lebih pintar dari Kepala Sekolah?  Simak kisahnya :

 

Agung  baru masuk SD kelas 1, hari pertama dia sudah protes sama Ibu guru.

”Bu, saya seharusnya duduk di kelas 3.“

Bu Gurunya heran, ”kenapa kamu yakin begitu?“

Agung  menjawab dengan mantap, ”Soalnya saya lebih pintar dari kakak saya yang sekarang duduk di kelas 3.”
Akhirnya bu guru membawa Agung  ke ruang Kepala Sekolah. Setelah diceritakan oleh bu guru, Pak Kepala Sekolah mencoba menguji Agung  langsung dengan berbagai materi pelajaran murid kelas 3 SD.

Kepala Sekolah : ”Berapa 16 dikali 26?“

Agung  : ”416“

Kepala Sekolah : ”Perang Diponegoro berlangsung tahun berapa?“

Agung  : ”1825 -1830“

Kepala Sekolah : ”Siapa penemu lampu bohlam?”

Agung  : ”Thomas Alpha Edison

Kepala Sekolah : ”Hewan yang memakan daging dan tumbuhan termasuk golongan apa?“

Agung  : ”Omnivora

Setelah beberapa pertanyaan, Pak Kepala Sekolah bilang ke Ibu Guru, ”kelihatannya Agung  memang cerdas, saya rasa bisa masuk di kelas 3.

Tapi Ibu Guru belum yakin, ”coba saya tes lagi Pak Kepala Sekolah”, kata Bu Guru.

Ibu Guru : “Benda apakah yang huruf pertamanya K, huruf terakhirnya L yang bisa menjadi tegang, bisa lemas?”

Mendengar pertanyaan bu guru, pak Kepala Sekolah melongo kaget!!

Agung  : “KetapeL

Ibu Guru : “Ok, sekarang… apakah yang huruf pertamanya M, huruf terakhirnya K, di tengah benda itu ada kacangnya?”

Pak Kepala Sekolah makin melongo sambil melap keringat di jidatnya.

Agung  : “MartabaK

Ibu Guru : “Oke, berikut. Kegiatan apakah yang biasa dilakukan anak remaja di kamar mandi dengan gerakan berulang – ulang, huruf pertamanya M, huruf terakhirnya I?”

Pak Kepala Sekolah makin salah tingkah mendengar pertanyaan Ibu guru.

Agung  : “Menggosok gigI

Bu Guru : “Kegiatan apakah yang biasa dilakukan pria dan wanita yang lagi pacaran di malam hari, huruf pertamanya N, huruf terakhirnya T?”

Pak Kepala Sekolah  Jidatnya berkeringat dan agak megap-megap  mendengar pertanyaan Ibu Guru yang terakhir ini, pikirannya agak “ngeres”.

Agung  : “Nonton MidnighT

Sebelum Ibu Guru melanjutkan pertanyaannya, … tapi Pak Kepala Sekolah memotong, ”Ibu Guru, Agung  dimasukin ke universitas aja, saya aja dari tadi salah terus jawabnya...”

 

Hubungan antara Kondisi, Sikap mental dan Keterampilan.

0

Ada sebuah cerita, dulu saya punya teman “seperjuangan, senasib-sepenanggungan” dan juga ” selapar-sekenyangan” di tempat kost. Kami sama-sama sekolah di tempat yang sama dari SD sampai SLTA, sama-sama dari dusun,  daerah Transmigrasi.  Perbedaan dintara kami adalah; Bapak saya anaknya banyak (Tujuh)  sedangkan Bapak teman saya anaknya cuma dua , sehingga dengan latar belakang  dan pendapatan orang tua kami yang  relatif hampir sama,  tetapi kemampuan memenuhi kebutuhan berbeda karena “user/pengguna” yang jumlahnya berbeda. Perbedaan lain adalah, saya dibiayai orang tua sampai SLTP, sedangkan teman saya dibiayai sampai kuliah.

Anda bisa menduga perbedaan lainya ?….. Saat kuliah teman saya sangat enjoy sedangkan saya tak mampu meluangkan sedikit waktu untuk bermain, sebagaimana layaknya menikmati masa muda. Lho…??? Lha iya, .. lha wong waktu saya  habis untuk mencari makan dan biaya sekolah/kuliah. Karena terpaksa,  maka saya harus belajar dan mencoba untuk bisa apa saja, mulai pembantu tukang batu (kenek),  membantu toko fotocopy,  membantu instalatir listrik, penyiar radio PEMDA, main Band di malam hari walau dibayar murah, bahkan membantu tebas kebun orang lain.  Artinya, karena keadaan , maka saya “terpaksa” harus belajar banyak hal yang dulunya tidak saya kuasai.  Dan ternyata ….. walaupun belajar dengan  “terpaksa”  karena  butuh biaya sekolah, ehh… saya jadi punya ilmu dari berbagai  bidang yang berbeda,  yang belakangan saya rasakan manfaatnya, minimal bisa menghemat biaya saat membangun rumah sendiri, karena biaya bisa ditekan, tidak perlu membayar mahal kepada orang lain untuk pekerjaan-pekerjaan yang “sebenarnya sangat mudah”. (more…)

Siswa ; Beda Dulu dengan Sekarang

0

Apa yang terjadi di dunia Pendidikan saat ini ..???

Ada gejala gak aneh yang saya (-dan juga teman-teman seprofesi-) rasakan belakangan ini. Siswa dan Mahasiswa agak kurang bergairah dalam belajar. Sepertinya… “Ilmu nggak ilmu, mutu nggak mutu.. biso dak biso .. yo lantak- lah, yang penting Lulus”.

Kasar kah bahasa saya ini ..??.. Buat anda yang merasa masih Pelajar stau Mahasiswa,… tak perlu tersingung dulu semuanya, kecuali bagi anda yang masuk dalam kelompok dimaksud.

Saya dan teman-teman berpendapat begitu bukan tanpa dasar, tapi didasari pada pengalaman dalam mengajar beberapa tahun belakangan.

Sebenarnya dari dulu sampai nanti juga tetap ada model siswa/mahasiswa seperti itu, cuma belakangan ini kadar nya agak tinggi.  Maaf kata,… disuapin saja nggak mau nelan, apalagi suruh cari makan sendiri…

Belakangan ini, sulit untuk mendapatkan suasana diskusi di kelas yang seru, berimbang dan berbobot seperti dulu. Jaman kami dulu, ada saja beberapa teman yang bermasalah kuliahnya karena “digencet” oleh Dosen, akibat tingkah beberapa teman yang (-tanpa sadar-) menyudutkan Dosen dalam diskusi.  Sekarang ? … Wuihh… agak sulit  mencari peserta didik yang senang diajak diskusi. Maunya dengar pelajaran doang, diam ,  dapat nilai dan maunya langsung lulus, sebab sudah diatur oleh Sekolah, Penguasa dan Pemerintah.

Apa yang terjadi ? apakah ada kaitannya dengan sistem pendidikan saat ini, dimana Institusi  ”Pusat”  dan “Daerah”  turut  serta memegang andil terhadap proses kelulusan siswa ?   Kita cari jawaban dan solusi sama-sama yuk…!

Go to Top