Umum

GELIAT SEKOLAH SWASTA

0

Monthly Archives: Juli 2013

B. Joko Laksono, SP, 17 Juli 2013.

Sekolah swasta, sebagaimana sekolah Negeri,  sama-sama membutuhkan biaya operasional sekolah diantaranya untuk biaya rutin ATK, Honor Guru, pemeliharaan sarana-prasarana, pengadaan peralatan pendukung, peningkatan SDM, dan juga pengeluaran yang bersifat sosial.

Sekolah swasta yang notabene sumber pendanaannya berasal dari Yayasan (kalau yayasannya peduli),  peserta didik, dan bantuan pemerintah daerah (kalau ada), terkadang lupa untuk memnyempatkan diri mereview pengelolaan keuangan. Dalam keadaan yang serba terbatas, banyak akibat yang mungkin timbul ; korbankan siswa (kompetensi tak terpenuhi karena keterbatasan sumber daya), korbankan sarana-prasarana (tak ada yang baru), atau korbankan pengelola  (yayasan, guru dan tenaga kependidikan lain dalam keadaan yang tidak layak).

Kalau mau jujur, sebenarnya  ada beberapa penyebab yang paling sering memiliki andil besar dalam penciptaan kondisi ini :

  1. Kurang aktifnya pengelola mencari alternative sumber pembiayaan baru. Yayasan semestinya berperan lebih, bukan sekedar payung hukum, tetapi juga yang terpenting adalah perannya sebagai payung moneter. Pemilihan pengurus Yayasan tentunya berdasarkan beberapa prasyarat yang mesti dipenuhi, diantaranya orang-orang yang berpengaruh di lingkungan pemerintah daerah setempat, memiliki waktu yang cukup, banyak koneksi, mahir melobi, dan punya perhatian yang besar terhadap dunia pendidikan, khususnya sekolah-sekolah yang dinaunginya.
  2. Kurang transparansi dalam pengelolaan keuangan. Hal ini menjadi sebab lain dari instabilitas moneter di beberapa institusi pendidikan. Tidak transparan berarti menumbuhkan bibit penyakit hati ; praduga, iri hati, dan tidak respek, akhirnya para pelaku pendidikan yang lain bekerja dengan seperempat hati.
  3. Kelemahan dalam penerapan kebijakan keuangan, misalkan terlalu sering membiarkan siswa yang bandel tidak membayar kewajiban, dengan alasan kemanusiaan, sementara sehari-hari terlihat bahwa siswa itu bukan tidak mampu ; jajan lancar, sepeda motor bagus, Hand Phone baru, dan gayanya selangit.  Kebijakan khusus memang kadangkala diperlukan, tetapi harus dilandasi dengan kecermatan melihat dan berhitung. Siswa dibelahan dunia manapun juga tau bahwa pendidikan itu memerlukan biaya dan memang harus dibayar. Disekolah-sekolah Negri pun  banyak biaya yang dibebankan kepada orangtua siswa, hanya nama beban biayanya saja yang berbeda-beda, bukan SPP tapi ada uang pangkal/bangunan, uang kebersihan, uang komite, uang pustaka, dan tetek bengek. Jangan harap kalau tidak bayar akan bias lancer sekolanya,..Siapa bilang sekolah itu  gratis ? Padahal di sekolah Negri, mereka tidak lagi perlu memikirkan perut dan uang bensin guru-gurunya karena sudah dibayar pemerintah. Nah, Lho,… ini masalahnya…. sekolah swasta, bukan favorit, kecil lagi,.. kok mesti “berbaik hati” memikirkan orang mampu yang bergaya tak mampu. Ini yang dalam bahasa daerah Jambi dinamakan ….dipeloloi….!!

Solusi yang mungkin dapat ditempuh untuk permasalahan ini diantaranya :

  1. Tentukan master plan , visi-misi yang jelas sebagai acuan pengembangan institusi kedepan, follow-up dan koreksi implemetasinya, jangan sampai hanya menjadi pajangan tulisan indah di dinding.
  2. Padukan daya satukan langkah mencari alternative sumber-sumber pembiayaan lain (selain kontribusi kewajiban siswa –wali murid) yang masih memungkinkan
  3. Mulailah menarik garis yang jelas, mana yang kewajiban dan mana yang hak untuk pengelola dan peserta didik, kurangi kebijakan yang tidak tepat. Terapkan penegakan disiplin untuk pengelola dan siswa.
  4. Sosialisasikan segala bentuk peraturan dan kebijakan lain secara terbuka
  5. Lakukan audit internal dan laporan keuangan secara berkala
  6. Pembinaan dan pengawasan yang berkelanjutan bagi setiap personil pengelola dalam menyelenggarakan sebuah institusi pendidikan.

Ini hanya sekedar buah pemikiran yang diharapkan dapat membuka mata melebarkan telinga kita semua, autokritik dengan tujuan untuk kebaikan bersama. Barangkali ada yang tidak nyaman karenanya, secara pribadi saya mohon maaf untuk itu. Saya sudah terlebih dahulu menyadari bahwa saya juga merupakan salah satu bagian dari system itu, sehingga tidak tertutup kemungkinan juga punya andil atas permasalahan yang sedang kita hadapi bersama. Semoga ada pencerahan kedepan.

*) Penulis adalah Ketua Jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ)  di     SMK(SMEA) Kosgoro Muara Bulian.

Selamat Hari Raya Idul fitri 1 syawal 1440 H

0
Posting asli 04 Juni 2019

 

Assalamu’alaikum wr.wb.
Ramadhan 1440H. Telah selesai kita lalui, dari tanggal 6 Mei 2019 s/d 4 Juni 2019, alhamdulillah kita dapat melalui semua, melalui puasa romadhon ini dapat melatih iman pada diri kita agar kita dapat mencapai derajat taqwa.
Dengan berpuasa di bulan romadhon hendaknya mampu merubah diri kita ke arah yang lebih baik lagi.
Pada hari ini 4 juni 2019 puasa romadhon tahun 1440h telah berakhir.

Wahai rabb kami… terimalah puasa kami.. sholat kamii..ruku’ kami… sujud kami..tilawah kami.. pertemukan lah kami di bulan romadhon kembali.
Sesungguhnya engkau maha mendengar dan maha mengetahui.

Selamat hari raya idul fitri 1440 h. Mohon maaf lahir dan bathin.

Selamat Idul Fitri 1439 H

0

Kami segenap Dewan Guru dan Karyawan SMK Kosgoro Muara Bulian, Mengucapkan :

Sekolah Swasta..?? Why Not ..!!

0

Ada saya kutip pendapat seorang teman , Pak Rusdi;

http://smk-bn-kk.blogspot.com/search/label/OK-nya%20Sekolah%20di%20Lembaga%20Swasta

OK-nya Sekolah di Lembaga Swasta

Kelebihan Sekolah di SMK Swasta

Banyak orang memandang sebelah mata terhadap sekolah swasta. Bahkan pihak-pihak yang seharusnya memajukan dunia pendidikan-pun terkadang bersikap demikian. Baiklah kita renungkan:
Sekolah swasta banyak berusaha untuk memajukan sekolahnya dengan susah payah, dengan segala keterbatasan, sehingga semua personil yang termasuk di dalamnya harus berpikir keras dan berusaha sekuat mungkin. Proses ini terus berlangsung dalam perjalanan sekolah tersebut. Sadarkah kita, proses ini memberikan pelajaran yang luar biasa bagi mereka yang ada di dalam sekolah tersebut, termasuk siswa dan organ sekolah yang lainnya.
“Jiwa kemandirian” ternyata dapat dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa atau terlatih dengan berbagai tekanan. Artinya seseorang yang terbiasa dengan meminta dan permintaannya mudah sekali untuk dikabulkan, tidaklah sangat mendidik jiwa kemandirian.
Go to Top